Menu Close

Langkahkan kaki, lemah gemulai menyibak kain yang membalut dengan indah pada warisan budaya negeri. Penuh dengan makna memberi pesan yang sangat penting tentang keindahan budaya. Tarian pesonanya tak pernah pudar dan tetap mempesona.

Rangkuman Tetarian menerima sorot lensa dari Tari Golek Menak, Bedaya Sapta, Bedaya Tirta, Serimpi Muncar, Serimpi Teja, Serimpi Pandhelori, Serimpi Rangga Januar, dan Kuda Gadingan. Tersimpan cerita keluhuran asa untuk menggapai tujuan yang beragam rupa dan karakter yang mendewasakan insan berdaya untuk mampu membawa perbedaan sebagai fondasi kehidupan damai nan sejahtera.

Maha Karya Artine Kain memadupadankan filosofi penggambaran perubahan, keteguhan dan semangat perubahan melalui ragam kombinasi budaya Nusantara dalam tari Yogyakarta. 


Tari Golek Menak

Beksan Golek Menak seakan menggambarkan semangat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam merayakan kemerdekaan Indonesia yang memiliki beragam budaya.

Beliau dengan sengaja mendorong penciptaan sebuah genre baru ke dalam tari gaya Yogyakarta dengan memasukkan unsur gerak dan irama dari bagian Nusantara yang lain.

Karena baik kesenian Yogyakarta maupun budaya Nusantara lainnya telah memiliki awal baru dalam masa kekuasaan beliau, bergabung menjadi satu di bawah payung Indonesia.

Tari Bedaya

Bedhaya Sapta merupakan tari klasik Keraton Yogyakarta Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1940-1988). ‘Sapta’ berarti tujuh, hal ini merujuk pada jumlah penari Bedhaya Sapta –tujuh penari–, tidak seperti lazimnya tari bedhaya yang dibawakan oleh sembilan penari.

Tarian menceritakan tentang perjalanan utusan Sultan Agung pada masa itu untuk menuju Batavia, Pada masa itu Batavia dikuasai oleh J.P. Coen.

Bedhaya Sapta secara umum dibawakan dalam beberapa ragam gerak, antara lain: gudhawa asta minggah, mlampah semang, impang encot, gajah ngoling, impang majeng, nggrudha, bangomate, dan puspita kamarutan.

Tari Srimpi

Srimpi Sekar Teja atau lebih dikenal dengan nama Srimpi Teja merupakan tari klasik Keraton Yogyakarta Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939).

Srimpi Teja mengambil cuplikan kisah dari Serat Menak. Tarian ini bercerita tentang Dewi Rengganis dari Pertapaan Argapura berperang melawan Dewi Widaninggar, putri Cina dari Negeri Tartaripura. Dewi Widaninggar hendak membalas kematian saudarinya yaitu Dewi Adaninggar. Oleh karena itu tarian ini juga dikenal sebagai Srimpi engganis mengsah Widaninggar.

Tari Kuda Gadhingan

Beksan Kuda Gadhingan merupakan Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengku Buwono V (1823-1855). Diciptakan pada 29 September 1847, beksan ini terinspirasi dari karya Sri Sultan Hamengku Buwono I, seperti Beksan Lawung, Guntur Segoro, dan Tugu Waseso. Beksan Kuda Gadhingan merupakan salah satu karya unggulan Sri Sultan Hamengku Buwono V

Beksan ini mengambil kisah roman Panji dalam wayang gedog yang menceritakan peperangan antara Raden Kuda Gadhingan dengan Patih Mandra Sudira. Raden Kuda Gadhingan merupakan kadeyan (karib) dan senapati Panji Asmarabangun dari Kerajaan Jenggala, sedangkan Patih Mandra Sudira merupakan patih Prabu Dasalengkara dari Kerajaan Pudhak Sategal. Mereka berperang demi memperebutkan Dewi Candrakirana, yang dipercaya sebagai titisan Dewi Anggraeni oleh kedua pihak. Peperangan ini akhirnya dimenangkan oleh Raden Kuda Gadhingan.

Price Based Country test mode enabled for testing Indonesia. You should do tests on private browsing mode. Browse in private with Firefox, Chrome and Safari