Menu Close

AKSARA

[smartslider3 slider=”7″]


Yogyakarta dan Aksara Jawa merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Aksara Jawa merupakan warisan luhur yang kaya akan makna. Terdiri dari Ha Na Ca Ra Ka, Da Ta Sa Wa La, Ma Ga Ba Tha Nga, dan Pa Dha Ja Ya Nya. Tidak banyak yang tahu bahwa aksara jawa mempunyai cerita penuh makna filosofi dibaliknya. Kisah tentang empat tokoh Ajisaka, Prabu Dewata Cengkar, Dora, dan Sembada. Bercerita tentang keserakahan manusia, pertarungan pekik, kewajiban manusia kepada Sang Pencipta, keagungan Tuhan dan dapatlah dipetik hikmah dari kisah dibalik Aksara Jawa. Sebuah kisah yang masih erat kaitannya dengan keadaan masa kini. Artine ingin bercerita makna filosofis melalui karya di edisi kedua ini agar nantinya pesan dibalik Aksara Jawa sampai dan dapat dipetik hikmahnya.

Hanacaraka

Design Hanacaraka menggambarkan Sosok Ajisakayang kuat dan perkasa. Design ini untuk mewakili sifat Ajisaka yang tenang namun dapat menghanyutkan. Hal tersebut digambarkan dengan elemen air dan angin pada design ini. Tiga matahari menggambarkan sosok Ajisaka sang mentari yang membawa terang kembali di negeri Medang Kamulan. Aksara yang melayang di angkasa menggambarkan pengetahuan yang kadang tanpa kita sadari di sekitar kita dalam bentuk papan jalan, kisah-kisah masa lalu, atau kisah personal.

Datasawala

Design menggambarkan hal hal imaji buto atau raksasa dan sosok prabu dewata cengkar. Kisahnya dalam cerita Ajisaka dihadirkan dalam fragmen – fragmen yang disusun menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam empat sudutnya ada 4 buah gambar- sup berisi jari manusia santapan dewata cengkar, sosok dewata cengkar tampak samping, buaya putih, dan jiwa-jiwa manusia santapan dewata cengkar. Desain bunga yang terbakar menyimbolkan kejahatan Dewata Cengkar. Dalam perspektif lain, corak ini melalui warna-warnanya menggambarkan kekuatan dan kompleksitas.

Padhajayanya

Design menggambarkan sosok sembada sebagai Figur inspirasi. la adalah salah satu orang kepercayaan Ajisaka yang diminta untuk menjaga keris pusakanya. Irisan ceritanya dengan Prabu Dewata Cengkar juga digambar dalam desain ini berupa sosok buaya putih yang terlilit kain udeng milik Ajisaka. Sementara itu dengan Dora berupa duel maut yang mereka lakukan hingga ajal menjemput nyawa mereka berdua. Warna yang digunakan dalam desain ini cenderung menggunakan warna hangat, warna-warna ini merepresentasikan sosok Sembada yang berani, patuh, dan juga memiliki kesiapan yang selalu dapat diandalkan.

Magabathanga

Corak pada dress Magabathanga terinspirasi dari Dora, selaku saksi pertempuran ajisaka. Design alam merepresentasikan perjalanan mereka. Corak pada Dress Magabathanga terinspirasi dari Dora selaku karakter yang menjadi pendamping perjalanan serta saksi pertempuran Ajisaka. Desain lanskap alam yang tergambar pada corak ini merepresentasikan perjalanan mereka. Sedangkan desain mata dan tangan merepresentasikan Dora sebagai saksi.

Price Based Country test mode enabled for testing Indonesia. You should do tests on private browsing mode. Browse in private with Firefox, Chrome and Safari